Fakta Baru Oknum Perangkat Desa Rite Kasus Pencabulan Anak Disabilitas Hukum Tajam Kebawa Tumpul ke Atas, Kami Minta Kapolri Atensi khusus Kapolres Bima Kota

Bima ~ Media Aspirasi ~ Kasus pencabulan Anak di sabilitas di desa rite kecamatan ambalawi kabupaten bima dilakukan oleh Oknum perangkat desa Rite berinisial (C) sudah berjalan tiga bulan, masih dipertanyakan warga, berawal pihak keluarga korban melaporkan bahwa dibawah umur dan disabilitas.

Fakta dalam pengembangan yang dilakukan oleh pihak kepolisian melalui Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak PPA membenarkan awal dari laporan pihak kobar di bawah umur.

Kanit PPA Polres Bima Kota, Menyampaikan melalui via WhatsApp. "Laporanx memang korban masih dibawah umur mas tp setelah dilihat di akta kelahiran dan KK usia korban itu SDH 18 th lebih saat kejadian dan skrg dia SDH berumur 19 tahun," ungkap singkat Kanit PPA.

Wartawan Media ini demi keseimbangan pemberitaan Informasi, melontarkan pertanyaan kepada Kanit PPA, "Lalu bagaimana lanjutnya kasus pencabulan terhadap anak disabilitas tersebut".

Apa yang membuat tidak dijeratkan oleh hukum pelakunya itu pak Kanit. Dan apakah Pelaku masih di proses secara hukum, atau sudah bebas pak kanit PPA.  Bisa diterapkan dan jelaskan. Agar keseimbangan Pemberitaan kami.

Ijin boleh saya naikkan beritanya dengan tanggapan bapak. Mengenai Umur Korban pencabulan tersebut. Hal ini juga pihak Kanit PPA Polres Bima Kota Bungkam untuk menanggapi.

Selain itu juga pihak orang tua korban berinisial M, mengatakan saat dikonfirmasi melalui telepon, selama kami melaporkan secara resmi di aparat penegak hukum APH kepolisian Mapolres Bima kota, sampai dalam proses penyidikan dan penyelidikan, tidak pernah diberikan surat SP2HP.

Lanjut dia, Kami memang orang yang buta huruf dan tidak pernah tahu apa yang menjadi perso'alan tentang penyidikan dan penyelidikan, apalagi yang namanya surat SP2HP selama beberapa bulan masa laporan itu masuk di Kapolres Bima kota, memang kami tidak tahu.

" Bahwa selama laporan itu dilaporkan, pihak kepolisian cuman satu kali saja datang mengambil keterangan dan menanyakan kepada anak kami selain itu tidak pernah, datang lagi," Ungkap Orang Tua korban.

"Saya selaku orang yang melahirkan dan membesarkan anak, tentunya tahu bagaimana rasanya kalau sudah dibuatkan begini, pihak kepolisian datang ke rumah ini berbincang tentang sesungguhnya terjadi bersama anak kami sebagai korban".

"Besar harapan kami kepada pihak aparat penegak hukum APH kepolisian, jangan memandang sebelah mata, karena kami orang yang tidak punya apa-apa serta orang yang buta huruf".

"Semoga petinggi kepolisian republik indonesia RI di Jakarta mendengar dan membaca serta menegakkan kebenaran dan keadilan, jangan pernah pandang bulu dalam perso'alan apalagi saat ini kami merasakan ketidak Adilan Oleh hukum di Mapolres Bima kota Bima," Pungkasnya orang tua korban, terdengar suara tangisannya. (Red/MA/06).