Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan

Foto: PPL Desa Tonda saat melihat langsung kondisi tanaman pertanian usai diterjang banjir.
Bima, Media Aspirasi - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Madapangga pada Kamis (21/2) kemarin menimbulkan terjadinya banjir bandang. Akibatnya sekitar 2 hektar lahan pertanian Kelompok Tani (Poktan) Ntanda Ndeu yang tecakup di So Tolo Sarae Desa Tonda terdampak banjir namun tidak berpotensi gagal panen.

"Walau pun diterjang banjir. Tanaman pertanian di So Tolo Sarae tersebut tidak berpotensi gagal panen. Karena banjir kali ini tidak disertai lumpur," ujar Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Tonda, Debyet Ritawati, S. Pt, Jum'at (22/2).

Kata Deby sapaannya, lokasi So Tolo Sarae setiap tahun menjadi langganan banjir karena luapan Sori Campa dan Woro. Biasanya, ketika intensitas hujan tinggi, banjir luapan Sori Woro dan Campa selalu disertai lumpur, sehingga mengakibatkan tanaman padi gagal panen karena tertimbun lumpur.

"Banjir kali ini tanaman padi tidak tertimbun lumpur. Sehingga tidak mempengaruhi hasil produksi pertanian," tuturnya.

Lanjut dia, terkait kejadian banjir tersebut, selaku PPL desa setempat mempunyai kewajiban untuk meninjau langsung di lokasi. Yakni untuk mengetahui dampaknya terhadap tanaman pertanian sekaligus dilaporkan ke Koordinator BPP Madapangga selanjutnya disampaikan ke Dinas Pertanian Kabupaten Bima.

"Sebagai  PPL kita harus respek untuk mengetahui segala kemugkinan yang terjadi di wilayah binaan. Karena hal itu merupakan salah satu tugas dan tanggungjawab kita sebagai pendamping," pungkasnya. (MA7)

Foto: Habib Ahmad Bin Abubakar Assegaf saat memimpin shalawat
Bima, Media Aspirasi- Bolly Dept Store menggelar Tablig Akbar yang digagas dalam" Bolly Bersalawat" bersama Habib Muhammad Bin Husein Al- Hasby dari Solo Jateng dengan Habib Ahmad Bin Abubakar Assegaf dari Tuban Jatim, Jum'at malam (23/3).

Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh Kapolres Bima, AKPB Bagoes S Wibowo SIK dan ribuan umat muslim yang ada di Kecamatan Bolo dan sekitarnya yang ada di Kabupaten Bima yang berlangsung di Gedung Bolly Dept Store di Desa Timu.

Pemilik Bolly Dept Store, H Muhdin M. Saleh Boftem, mengatakan, kegiatan Tablig Akbar dengan tema "Bolly Bersalawat" pada malam hari ini bersama dua orang Habib yaitu Muhammad Bin Husein Al- Hasby dari Solo Jateng dengan Habib Ahmad Bin Abubakar Assegaf dari Tuban Jatim. Dengan tujuan untuk meningkatkan ukhuwah Islamiah.

"Kegiatan ini pula kita rangkaian dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW," ujarnya.
Foto: Jamaah yang hadir saat kegiatan Bolly Bershalawat.

Kata dia, kegiatan Tablig Akbar ini, sebagai wadah untuk meningkatkan tali silaturahmi antar sesama muslim. Terutama untuk meningkat kebersamaan dan tali persaudaraan antarsesama.

"Kita harapkan kegiatan ini terus menumbuhkan rasa cinta pada Rasulullah. Dan mewujudkan semangat perjuangannnya dalam sendi-sendi kehidupan," pintanya.

Dia juga berterima kasih atas seluruh lapisan masyarakat yang sudah hadir memeriahkan acara ini. Terutama sekali bisa menjaga keamanaan dan ketertiban. Sehingga kegiatan yang bisa hajatkan bersama ini berjalan lancar dan sukses.

"Saya berterimakasih atas partisipasi semua pihak. Sehingga hajatan yang kita laksanakan ini berlancar dan sukses," pungkasnya. (MA7/Adv)

Foto: Jenazah korban asal Desa Sanolo, Mulyadin H Usman sebelum dimakamkan.
Bima, Media Aspirasi- Pemuda Asal Desa Sanolo, Mulyadin H Usman, 25 Tahun ditemukan tak bernyawa di Tambak Garam watasan desa setempat sekitar Pukul 13.00 wita, Sabtu (29/9). Korban diketemukan pertama kali oleh Orang tua kandungnya H Usman dalam keadaan terlentang di tambak garam watasan desa setempat.

Kapolsek Bolo, AKP Muhtar HI S Sos membenarkan peristiwa penemuan pemuda yang sudah tak bernyawa di tambak garam watasan Desa Sanolo tersebut.

“Peristiwa tersebut benar adanya. Dan korban ditemukan awalnya oleh orang tua kandungnya dalam keadaan terlentang di tambak garam desa setempat,” ujarnya.

Dijelaskannya, berdasarkan informasi warga setempat bahwa awalnya korban bersama orang tua kandungnya berangkat ke Tambak Garam  untuk bertani garam sekitar pukul. 07.00 wita. Setelah itu keduanya membawa garam ke dalam gudang.  Namun sekitar pukul 10.00 wita orang tua korban tak melihat anaknnya di sekitar tambak garam tersebut. Karena tak melihat anaknya di sekitar lokasi tersebut sekitar pukul 12.00 wita orang tua korban mencari ke rumahnya.

Lanjutnya, saat dicari dirumahnya korban pun tak ditemukan. Akhirnya orang tuanya memberitahukan warga untuk bersama-sama mencari korban dan ditelusuri disekitar tambak.

“Setelah dicari kembali di sekitar tambak tersebut korban ditemukan pertama kali dilihat oleh orang tua kandungnya. Dalam keadaan terlentang dan tidak bernyawa di dalam tambak,” terangnya.

“Setelah ditemukan, korban sekitar pukul 13.00 wita dibawa ke rumahnya di RT 15 Desa Sanolo,” ungkapnya.

Kata dia, sesuai informasi bahwa korban diduga memiliki riwayat penyakit ayan dan sering mengalami pingsan. Kemungkinan saat korban pingsan tidak ada yang melihat sehingga korban tidak dapat diselamatkan.

“Peristiwa ini pihak keluarga sudah mengikhlaskanna. Dan menolak dilakukan outopsi,” pungkasnya. (MA2)


Foto: Salah satu penerima manfaat program RTHL, Santi Sukardin.
Bima, Media Aspirasi- Warga Desa Rasabou Kecamatan Bolo selaku penerima manfaat keluhkan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Tahun 2018. Dikarenakan pihak toko UD Rosi selaku mitra program tersebut terlambat mendistribusikan bahan material.

Salah satu penerima manfaat program RTLH, Santi Sukardin warga RT 14 Desa Rasabou mengaku kecewa dengan program tersebut. Program yang tujuan mensejahteraankan, justru menyengsarakan warga. Sebab imbas keterlambatan pendistribusain bahan material tersebut pekerjaan dihentikan.

“Kalau pekerjaan dihentikan. Kapan selesaikan pekerjaan bedah rumah ini. Apalagi selama rumah kita dibedah, kita tidurnya ditenda darurat,” ujarnya.

Kata dia, pekerjaan bedah rumah ini sudah masuk dua pekan. Dalam dua pekan tersebut pihak toko baru menyalurkan pasir delapan gerobak, batu satu dump truc, semen sepuluh sak, kayu kosen tujuh batang. Kemudian, kawat cincin  lima batang, kawat ukuran delapan mili sebanyak tujuh batang, batu bata sebanyak 2000 biji dan paku 1 kilo.

“Dari metarial yang disalurkan tersebut sudah dipakai untuk bangun fondasi. Hanya batu bata saja yang masih utuh,” tuturnya.

Disisi lain, untuk biaya tukang dan buruh selama bangun fondasi, pihaknya terpaksa harus hutang ke warga sekitar. Sebab kalau harus menunggu pencairan program untuk biaya tersebut kasihan sama pekerja.

“Untuk upah buruh sudah kita selesaikan. Sedangkan untuk upah tukang belum diselesaikan sepersen pun,”ungkapnya.

Dia meminta kepada pihak fasilitator program RTLH mendesak pihak toko untuk menyalurkan bahan material tersebut. Agar kelanjutan proses bedah rumah ini terselesaikan sekaligus dimanfaatkan.

“Kita hanya minta bahan material secepatnya disalurkan kembali. Sehingga proses pekerjaan ini terselesaikan,” pintanya.

Hal senada disampaikan Suharti warga RT 13 membenarkan keterlambatan pendistribusian bahan material. Akibatnya program itu mandek dan imbasnya perabotan rumah berserakan di luar rumah. Bahkan kata dia, setiap malam harus tidur di luar sembari menunggu perbaikan rumah.

“Kita bukan saja keluhkan keterlambatan penyaluran material. Tapi juga biaya tukang dan buruh,” katanya.

Selain itu, dipertanyakan terkait adanya perbedaan penyaluran setiap penerima manfaat. Jika ditotalkan bahan material yang diterimanya sekitar Rp 1 juta lebih terhitung sejak dimulainya pekerjaan itu. Sebab yang diterima hanya semen 15 sak dan pasir delapan gerobak.

“Saya heran kenapa ada perbedaan yang sangat jauh jumlah pendistribusian bahan material tersebut. Mestinya pihak toko tidak menyalurkan seperti itu karena dikhwatirkan muncul kesenjangan,” ungkapnya.

Dia meminta pada fasilitator mendesak pihak toko selaku penyalur bahan material untuk secepatnya mendistribusikan bahan material sesuai termin pertama. Agar pekerjaan lancar sehingga tidak berlarut seperti ini.

“Pihak toko harus segera menyalurkan material tersebut. Agar pelaksanaan pekerjaan ini berjalan lancar,” pintanya.

Sementara itu, Fasilitator program RTLH Desa Rasabou Muis mengatakan, terkait penyaluran bahan material adalah kewenangan pihak toko selaku mitra program RTLH yakni toko UD Rosi.

“Saya sudah minta pada pihak toko untuk salurkan bahan material sejak tiga hari yang lalu. Tapi sampai saat ini belum ada realisasinya,” tutur Muis.

Dijelaskan dia, penerima manfaat RTLH di Desa Rasabou sebanyak 11 orang, besar dana untuk setiap penerima manfaat yakni Rp. 14 juta. Akan tetapi dana itu ada biaya PPN dan PPH. Namun kata dia, besar dana yang diterima penerima manfaat setelah potong PPN dan PPH tidak diketahuinya.

“Spesifikasi yang harus diterima oleh penerima manfaat saya tidak tahu. Kalau ingin lebih jelasnya, sebaiknya datang ke kantor dinas terkaitnya,” arahnya.

Diakuinya, terkait dengan biaya tukang, itu belum cair. Dan biaya tersebut akan langsung masuk ke rekening kelompok. (MA3)

Foto: Anggota Satuan Pol PP Kecamatan Bolo saat mengamankan pelajar Keluyuran di Dermaga Daru Desa Darussalam.

Bima,Media Aspirasi- Keluyuran di Dermaga Daru Desa Darussalam Kecamatan Bolo, lima pelajar SMA dan SMP diamankan satuan Pol PP wilayah setempat, Kamis (6/9).
"Kelima pelajar diamankan ini merupakan mereka yang berkeluyuran saat jam sekolah," ujar Anggota PTI Sat Pol PP Kecamatan Bolo, Iriyanto SH.

Dijelaskannya, kelima pelajar tersebut tiganya berasal dari salah satu SMP di Kecamatan Bolo, satu di SMK dan satunya SMA di Kecamatan Madapangga.

"Setelah kita amankan dan didata identitas pelajar teesebut. Mereka langsung kita serahkan ke pihak sekolah masing-masing," terangnya.

Kata dia, bahwa razia penertiban ini akan terus dilakukan. Dan pelaksanaan tugas ini sesuai SOP dan diperkuat SPT Camat Bolo.

"Razia ini juga sudah kita lakukan koordinasi dengan Aparat Kepolisian setempat," pungkasnya. (MA3)

Foto: Jenazah korban yang tenggelam, Rato Bintaro warga Desa Tumpu saat tiba di kediamannya desa setempat.

Bima, Media Aspirasi- Warga asal Desa Tumpu, Rato Bintaro yang tenggelam di laut Desa Lewintana Kecamatan Soromandi, Senin (20/8) kemarin akhirnya ditemukan sekitar pukul 10.30 wita, Selasa (21/8). Korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial, Rizal Muhlis menyampaikan bahwa korban ditemukan tidak jauh dari lokasi tempatnya mancing. Dan ditemukan dalam kondisi mengambang di antara dasar laut dengan permukaan.

"Korban ditemukan di kedalaman sekitar laut 2 meter," ujarnya.

Dijelaskannya, bahwa korban ditemukan salah seorang warga yang juga ikut melakukan pencarian. Namun saat ditemukannya korban tersebut warga tidak berani mengangkatnya. Kemudian warga tersebut memanggil anggota Tagana yang melakukan pencarian di sekitarnya.

"Kita turun bersama dalam pencarian. Namun yang menemukan awal korban yakni warga. Kemudian dievakuasi oleh tim Tagana," ungkapnya.

Dalam penemuan tersebut kata dia, kondisi visik korban masih dalam keadaan utuh. Hanya sedikit dibagian kelopak matanya yang sudah hilang.

"Korban masih utuh dan mengenakan separu bot," bebernya.

Sementara itu, Kapolsek Bolo, AKP Muhtar HI S Sos membenarkan telah ditemukannya korban asal warga Desa Tumpu yang tenggelam tersebut.

"Setelah ditemukan dan dievakuasi. Korban langsung dibawa menggunakan Ambulan ke kediamannya di Desa Tumpu," ujarnya.

Usai ditemukan korban, sekitar pukul 11.00 wita, pihaknya bersama anggota berkoordinasi dengan keluarga. Dan terkait dengan kejadian tersebut pihak keluarga korban menggangap bahwa meninggalnya murni karena musibah.

"Mereka menolak untuk melakukan outopsi dan membuat surat pernyataannya. Dan mereka ikhlas bahwa itu murni musibah," pungkasnya. (MA3)

Foto: Jenazah korban asal Desa Tumpu, Rato Bintaro saat dilakukan pencarian oleh warga Desa Lewintana dan Lewidewa.
Bima,Media Aspirasi- Diduga saat asyik mancing di laut watasan Desa Lewi Ntana Kecamatan Soromandi, warga Desa Tumpu, Rato Bintaro 25 tahun tenggelam sekitar pukul 13.00 wita, Senin (20/8). Peristiwa itu menyebabkan korban meninggal dunia bahkan jenazahnya hingga kini masih dalam pencairan.
Kapolsek Bolo, AKP Muhtar HI S Sos menyampaikan bahwa korban bersama temannya yang juga warga Desa Tumpu, Burhanudin alias Boy, 40 tahun berangkat mencari ikan di laut dengan memancing menggunakan alat pancing kayu.

"Korban dan temannya ini berangkat bersama. Namun saat mancing mereka berdua menggunakan sepato bot masing-masing," ujarnya.

Kata dia, korban tersebut memancing agak kedalam dan jauh dari temannya tersebut. Dan korban diketahui hilang setelah temannya tersebut tak lagi melihat keberadaannya.

"Karena tak lihat korban, Boy berusaha mencari dan memanggil warga di Desa Lewidewa dan Lewintana. Namun dalam pencairan  tersebut jenazah korban tak ditemukan," ungkapnya.

Setelah beberapa jam tak ditemukan oleh warga setempat. Sekitar Pukul 15.30 wita Airud bersama Basarnas tiba di TKP dan melakukan pencarian dengan menggunakan perahu dan di bantu oleh warga.

"Dalam pencarian itupun belum ditemukan jenazah korban. Dan sekitar pukul 18.00 wita pencarian korban tersebut dihentikan. Selanjutnya akan dilakukan pencarian besok pagi (Selasa, 21/8, red)," pungkasnya. (MA3)

Foto: Salah satu regu gerak jalan indah yang belum sampai finis hingga malam.
Bima,Media Aspirasi- Lomba gerak jalan indah SD sederajat tingkat Kecamatan Bolo, sembilan regu sampai finis hingga malam, Senin (13/8).
Kegiatan tersebut diselenggarakan pemerintah kecamatan setempat dalam rangka memeriahkan HUT RI ke- 73 tahun 2018.

Salah satu pembina regu gerak jalan, Aladin mengaku sangat kecewa dengan managemen panitia pelaksana gerak jalan indah. Dikarenakan adanya sembilan regu yang sampai di titik finis di Paruga Nae Bolo hingga malam.
"Ini merupakan kesalahan besar panitia yang tak mampu mengatur regu saat di titik star di SMPN 4 Bolo lokasi Desa Tambe. Terus terang saya sangat kecewa," ujarnya.

Selain itu, saat di jalan peserta sering berhenti karena banyaknya kendaraan di jalur yang akan dilewati oleh peserta gerak jalan. Harusnya kendaraan saat adanya kegiatan seperti ini dialihkan untuk sementara waktu.
"Di jalan sering macet. Sehingga menghambat,"katanya.

Pembina regu gerak jalan yang lain, Muhtar menambahkan, kesalahan lain yang dilakukan panitia juga adalah tempat star peserta tidak sesuai dengan surat yang diterima oleh sekolah-sekolah.
"Surat yang kita terima di Lapangan Fajar Desa Tambe. Namun saat star kita dilepas di SMPN 4 Bolo," ungkapnya.

Dia berharap kedepan panitia bisa lebih baik teratur dalam melaksanakan kegiatan seperti ini. Sehingga hal ini tak terulang kembali.
"Panitia harus teliti. Sehingga tak berkesan buruk bagi masyarakat," pintanya.

Sementara itu, Kepala SD IT Al Madinah Ust Jabir Abdullah mengatakan, banyaknya regu gerak jalan menjadi salah satu masalah sehingga peserta bisa molor hingga malam. Harusnya panitia membatasi jumlah regu tiap-tiap sekolah. Bukan semaunya sekolah.
“Masa satu sekolah ada yang punya tiga regu. Harusnya itu dibatasi,” ujarnya.

Lanjutnya, jalan yang akan dilewati oleh peserta gerak jalan harusnya disterilkan dulu dari kendaraan. Sehingga peserta tidak terhambat oleh banyaknya kendaraan yang juga melintas pada jalan yang dilewati peserta.
"Sering sekali terjadi kemacetan sehingga peserta banyak menghabiskan waktu karena berhenti,” terangnya.

Dia berharap kedepan penyelenggaraan gerak jalan indah bisa lebih baik. Agar peserta tidak sampai malam seperti ini.  “Paling tidak, peserta bisa sholat magrib di rumahnya masing- masing. Bukan magrib masih jalan," tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala UPTD Dikbudpora Kecamatan Bolo, H Ahmad SH MSi membenarkan adanya regu yang sampai finis hingga malam. Hal ini dikendala karena seringya terjadi macet di jalan.
"Kita mau alihkan juga, dialihkan kemana," ujarnya.

Selain itu, peserta yang mengikuti gerak jalan indah terbilang banyak. Sedangkan waktu star disamakan dengan waktu star tahun-tahun sebelumnya.
“Kedepan kita akan majukan lagi waktu starnya,” tutur H Ahmad.

Ditanya soal bedanya tempat star yang ada di surat dengan yang dilakukan di lapangan, pihaknya mengaku langkah itu diambil karena dekat jalan raya.
"Kalau di Lapangan Fajar jaraknya jauh dari jalan raya. Kalaupun itu menjadi salah satu masalahnya. Kedepan kita akan ubah untuk tahun mendatang," pungkasnya. (MA3)

Foto: Kondisi rumah yang terbakar di Desa Kore Kecamatan Sanggar
Bima, Media Aspirasi-Satu unit rumah di Desa Kore Kecamatan Sanggar ludes terbakar, Jum'at (13/7). Insiden yang terjadi sekitar pukul 23.00 itu diduga disebabkan hubungan arus pendek listrik.

Saat kejadian, pemilik rumah Irfan (30) dan St Kaya (25) tidak ada ditempat. Kebakaran pertama kali diketahui Ketua RT setempat, Arrahman yang sedang duduk di rumahnya didekat lokasi kejadian.

Insiden diketahui ketika listrik di rumah yang bersangkutan tiba-tiba padam. Ketika keluar untuk memeriksam, Arrahman melihat kobaran api di rumah Irfan sudah membesar.

"Karena rumah itu baru dibangun, sementara mengambil aliran listrik dari rumah saya. Saat kejadian saya sedang duduk dan meteran istrik tiba-tiba mati, saya keluar dan langsung melihat rumah yang bersangkutan sudah terbakar," ungkapnya.

Melihat kobaran api, yang bersangkutan langsung meminta bantuan warga.  Karena dinding rumah menggunakan bedek dan triplek ditambah angin kencang, sehingga kobaran api tidak bisa dipadamkan.

"Saat pertama kali saya lihat, sebagian besar rumah sudah terbakar. Sehingga tidak bisa diselamatkan," ujarnya.

Akibat kejadian itu, seluruh isi rumah ludes terbakar. Mulai dari perabotan, emas dan beberapa barang elektronik. Sehingga kerugian diperkirakan sekitar Rp 25 juta. (MA5)

Foto: Erlyana, remaja asal Kecamatan Sanggar yang hilang
Bima, Media Aspirasi-Erlyana, remaja asal Desa Taloko Kecamatan Sanggar yang menghilang sejak Senin (4/6) malam lalu hingga hari ini (Kamis (7/6) malam, red) tak kunjung ditemukan. Informasi terakhir dari salah seorang yang mengenal Erlyana, yang bersangkutan ditemukan di Cabang Monggo Kecamatan Madapangga, Selasa (5/6) lalu.

"Saya melihat anak itu (Erlyana, red) di Cabang Monggo, Selasa (5/6). Bahkan saya sempat bersalaman dengannya, karena saya kenal dekat dengan anak itu," ungkap Jawiah, salah satu warga yang mengaku melihat Erlyana.

Dia mengaku sempat menanyakan kenapa Erlyana berada di Cabang Monggo, namun tidak dijawab dengan jelas. Sayangnya pada saat itu, Jawiah tidak mengetahui status Erlyana yang kabur dari rumah.

"Saya tidak tau kalau dia kabur dari rumah. Kalau saat itu saya tau, anak itu sudah saya ajak pulang," ujarnya.

Sementara itu, pihak keluarga masih berupaya mengumpulkan informasi terkait keberadaan Erlyana. Serta melakukan upaya pencarian diberbagai tempat yang kemungkinan didatangi korban.

Menurut pihak keluarga, ada informasi Erlyana punya kenalan dengan orang di Kecamatan Belo. Sehingga ada kemungkinan yang bersangkutan berada di wilayah tersebut.

Pihak keluarga berharap bagi yang menemukan Erlyana agar segera menghubungi pihak keluarga. Karena pasca ditemukan di Cabang Monggo, Selasa (5/6) lalu, belum ada informasi terbaru terkait keberadaan yang bersangkutan. (MA5)

Foto: Foto Erliyana, remaja yang hilang sejak, Senin (4/6) lalu.
Bima, Media Aspirasi - Erliyana (15), remaja asal Desa Taloko Kecamatan Sanggar menghilang. Putri keempat pasangan Maskur dan Murni ini tidak pulang ke rumah dan tidak diketahui kabarnya hingga kini setelah pamit keluar usai buka puasa, Senin (4/6) malam lalu.


Menurut pihak keluarga, pada saat kejadian Erliyana sempat berbuka puasa bersama keluarga. Setelah itu dia pamit keluar ke pertigaan (Cabang Kambu, red) untuk berkumpul bersama teman-temannya.


"Sejak malam itu (Senin (4/6), red) Erliyana belum pulang dan belum ada kabar terkait keberadaannya," ungkap Maskur, ayah korban.


Maskur mengaku tidak mengetahui secara jelas penyebab hilangnya Erlyana. Sebab menurut dia, sebelum kejadian tidak ada tingkah maupun masalah yang terjadi antara yang bersangkutan dengan keluarga.


"Kalau di rumah tidak ada masalah. Hanya saja menurut informasi dari teman-temannya, Erlyana ada masalah dengan teman pria nya," ungkapnya.


Pihak keluarga sudah berupaya melakukan pencarian. Baik di rumah keluarga dekat maupun ke tempat teman-teman yang biasa dikunjungi Erlyana. Namun hingga Kamis (7/6) belum juga ada kabar terkait keberadaannya.

"Kita sudah mencari ke beberapa tempat yang kemungkinan didatangi Erlyana, namun tidak ada. Kami juga sudah melaporkan ke pihak yang berwajib," ujarnya.


Menurut data yang disampaikan kepada pihak kepolisian, Erlyana terakhir kali keluar mengenakan rok putih, jaket putih dan kaos merah. Dengan ciri fisik, kulit putih, rambut panjang, tinggi sekitar 150 cm dan bermata sipit. (MA5)

Foto: Ketua DPD GERAK NTB, Iswahyudin SH
Bima, Media Aspirasi - Pengamanan pengemis yang memiliki uang belasan juta rupiah oleh Sat Pol PP heboh dikalangan pengguna media sosial di Bima. Hal itu mendapat sorotan Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GERAK) NTB.

Ketua DPD GERAK NTB, Iswahyudin SH menegaskan, pihak terkait dan media perlu mengklarifikasi pengamanan pengemis tersebut. Karena kondisi itu tentu akan melahirkan multi tafsir dari masyarakat.

"Hal itu tentu menjadi pro kontra. Ada yang merasa iba, juga merasa kesal melihat pengemis tua itu diinterogasi dengan uang yang dikumpulkan dari hasilnya meminta-minta," ujarnya.

Iswahyudin juga mempertanyakan motiv pengamanan pengemis itu oleh Sat Pol PP. Sebab menurut dia, jika sebagai langkah serius untuk penertiban, tentu harus dilakukan dengan cara yang lebih bijak dan elegan.

"Masyarakat juga tentu ingin tau kejelasan uang pengemis yang diamankan itu. Apakah akan dikembalikan atau akan diamankan dinas terkait?," tanyanya.

Dia juga menilai, pengamanan pengemis itu akan terkesan miris. Sebab disatu sisi, oknum-oknum yang menyalahgunakan uang negara masih berkeliaran bebas.

"Jika memang hal semacam ini dinilai sebagai pelanggaran, pemerintah harus punya nyali untuk mengungkapkan semua kejahatan yang ada. Jangan hanya pengemis diamankan, sementara para koruptor yang memakan uang negara dibiarkan berkeliaran begitu saja," sorotnya. (MA2)

Foto: Kepala Dinas PU Kabupaten Bima,Ir Nggempo saat memeriksa pekerjaan talud oleh PT Bunga Raya.
Bima, Media Aspirasi- Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Bima, Ir Nggempo mendesak proyek pemasangan talud gorong-gorong oleh PT Bunga Raya yang berlokasi di jalan lintas Desa Sanolo-Rasabou Kecamatan Bolo, dibongkar. Pasalnya, proyek dengan total anggaran senilai Rp 2 milyar lebih yang bersumber dari APBD II tahun 2018 itu tidak sesuai bestek.

“Kedalaman fondasi talud tidak memenuhi standar. Masa langsung dipasang batu seperti itu,” sorot Ir Nggempo saat meninjau proyek ruas jalan Rasabou-Sanolo yang dikerjakan PT Bunga Raya, Rabu (30/5) lalu.

Kata Nggempo, pemasangan talud harus memiliki fondasi yang kuat. Yakni kedalamannya harus sesuai target, sehingga pemanfaatannya bisa dirasakan lebih lama.

“Saya tidak mau tahu. Kalau tidak memenuhi speak, harus dibongkar, ” tegasnya.

Nggempo juga menegaskan akan memberikan tindakan keras apabila dalam waktu dekat belum dilakukan pembongkaran. Pihak pelaksana diwanti-wanti agar tidak bekerja senenaknya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

“Anggaran yang digunakan adalah milik rakyat. Idealnya, rakyat harus merasakan pemanfaatannya dalam jangka waktu yang panjang, ” ujarnya.

Pada waktu yang bersamaan, pihak yang ditunjuk sebagai pelaksana, yakni warga Desa Ndano Kecamatan Madapangga, Ahmad Rasu mengungkapkan, fondasi talud sebenarnya sudah digali dengan menggunakan eksafator. Oleh sebab itu, pihaknya menolak untuk dilakukan pembongkaran sesuai permintaan Kadis PU Kabupaten Bima.

“Fondasi talud digali menggunakan eksafator. Kita tidak mungkin langsung memasang talud. Memang ada teguran dari Kadis PU untuk diperbaiki, tapi tidak dibongkar, ” tegasnya.


Lain hal disampaikan Pihak Pelaksana proyek ruas jalan Sanolo-Rasabou tahun 2018 yang ditunjuk langsung oleh PT Bunga Raya, Wijanarko saat dikonfirmasi Kamis (31/5) mengungkapkan,  dirinya akan memerintahkan pelaksana di lapangan agar talud tersebut dibongkar. Guna dilakukan perbaikan sesuai arahan Kadis PU.

“Saya akan suruh talud tersebut dibongkar saja, ” pungkasnya. (MA1)

Foto: Ketua DPD Gerak NTB, Iswahyudin SH
Bima, Media Aspirasi-Menjabatnya Bupati Bima, Hj Indah Dhamayanti Putri sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bima disorot DPD Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GERAK) Indonesia Provinsi NTB. Dinilai, posisi yang dijabat Bupati itu cacat hukum.

Ketua DPD GERAK NTB, Iswahyudin SH menegaskan, Pejabat Struktural tidak dibenarkan menjadi pengurus apalagi menjabat sebagai Ketua KONI. Baik di tingkat Nasional, Provinsi maupun Kota dan Kabupaten.

"Aturannya jelas pada PP No 16 Tahun 2007 pasal 56 yang berbunyi (1)  Pengurus Komite Olahraga Nasional, Komite Olahraga Provinsi dan Komite Olahraga Kabupaten/Kota bersifat mandiri dan tidak terikat dengan kegiatan jabatan struktural dan jabatan publik," ungkap Iswahyudin.

Aturan itu lanjut dia, diperkuat UU Nomor 3 Pasal 40  Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN). Oleh sebab itu, Bupati Bima diminta mundur dari jabatan tersebut karena menyimpang dari aturan yang berlaku.

"Bupati harus mundur dari jabatan sebagai Ketua KONI, walaupun alasannya dipilh secara aklamasi atau pemilihan langsung. Mengacu pada Undang-Undang Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) dalam pasal 40 yang disebut jabatan struktural dan jabatan publik tidak boleh jadi pengurus KONI," tegasnya.

Dia menilai, kondisi itu akan berimplikasi pada kebocoran penggunaan anggaran. Sehingga keterlibatan Kepala Daerah dalam kepengurusan KONI akan menuai sorotan tajam dari berbagai elemen.

"Oleh sebab itu, apabila ada Bupati, Wakil Bupati, Wali Kota maupun Wakil Wali Kota yang ikut serta terlibat menjadi pengurus KONI, saya minta segera mundur," tegasnya lagi.

Menurut dia, menjabatnya Hj Indah Dhamayanti Putri sebagai Ketua KONI akan berpengaruh besar pada pertanggungjawaban pengurus kepada Bupati. Sebab kedua jabatan tersebut dipegang oleh satu orang.

"Saya meminta Ketua KONI NTB agar segera mengfasilitasi musyawarah luar biasa dan membatalkan Surat Keputusan (SK) Kepengurusan Ketua KONI Kabupaten Bima berdasarkan acuan undang-undang yang berlaku," pungkasnya. (MA2)

Foto: Ketua Forum Pemuda Peduli Desa Taloko Kecamatan Sanggar, Rusman
Bima,Media Aspirasi- Forum Pemuda Peduli Desa Taloko Kecamatan Sanggar mengecam sikap Kades setempat, Burhan MT yang dinilai apatis. Kecaman disampaikan menyusul ketidakhadiran Kades saat pemuda setempat hendak melakukan audiensi terkait dugaan beberapa permasalahan yang ditemukan dalam pembangunan desa setempat, Kamis (31/5).

Ketua Forum Pemuda Peduli Desa Taloko, Rusman menuding tindakan Kades tidak menunjukkan itikad baik. Padahal kata dia, sebelumnya telah dilayangkan surat pemberitahuan kepada Pemdes setempat terkait tujuan yang dimaksud.

"Kita sudah ajukan surat terkait audiensi itu, malah saat hari yang ditentukan Kades tidak ada ditempat. Hal ini menunjukkan Kades tidak memiliki itikad baik untuk melayani masyarakat," tudingnya.

Rusman mengungkapkan, tujuan audiensi itu untuk meminta klasifikasi dan transparansi Kades menyangkut sejumlah program pembangunan desa setempat. Sebab dinilai, realisasi beberapa program tidak sesuai dengan Juklak, Juknis, RAB serta harapan masyarakat.

"Seharusnya audiensi ini disambut baik oleh Kades. Karena tujuan kita murni untuk kepentingan pembangunan desa, bukan untuk merongrong dan menjatuhkan reputasi Pemdes," sesalnya.

Dia berharap, batalnya audiensi karena absennya Kades menjadi bahan evaluasi Pemdes setempat. Karena jika permintaan audiensi tetap tidak diindahkan oleh oknum Kades, pihaknya mengancam akan melaporkan berbagai masalah program desa setempat ke ranah hukum.

Sekdes Taloko, Furkan SPdi yang dimintai tanggapan via telepon mengakui adanya surat yang disampaikan Forum Pemuda Peduli Desa Taloko perihal audiensi. Namun pada hari yang ditentukan, Kades berhalangan karena tengah menghadiri rapat dengan Bupati Bima.

"Kades tidak bisa hadir saat audiensi karena ada rapat dengan Bupati. Saya sudah menawarkan diri untuk memfasilitasi audiensi itu, namun ditolak oleh pemuda," terangnya.

Dia mengaku sangat mengapresiasi niat pemuda setempat untuk mengawal pembangunan di desa setempat. Untuk itu, dia berjanji akan mengupayakan audiensi dilain waktu saat Kades ada ditempat.

"Kita apresiasi karena pemuda dan masyarakat mau menyampaikan pendapat. Harapan pentingnya tetap menjaga etika penyampaian," pungkasnya. (MA5)

Foto: Inilah kondisi tanaman padi petani di Desa Sanolo Kecamatan Bolo.
Bima, Media Aspirasi - Kekeringan melanda puluhan hektare tanaman padi disejumlah kawasan di Desa Sanolo Kecamatan Bolo. Akibatnya petani terancam gagal panen.

Dari pantauan Media Aspirasi, kekeringan terjadi di So Malino I dan II, So Bata Muku dan So Oi Sonco. Dengan total lahan sekitar 30 hektare.

“Kekeringan tahun ini tidak diduga. Biasanya untuk pola tanam Musim Kemarau  (MK) I masih ada sisa hujan. Saat ini sama sekali hujan tidak turun sehingga meenimbulkan kekeringan,” ujar petani asal Desa Sanolo, Hasan saat dikonfirmasi di So Malino I, Rabu (30/5).

Kata dia, khusus So Malino, setiap tahunnya bisa panen normal dengan menggunakan Dam atau Daerah Irigasi (DI) Desa Tambe. Namun tahun ini, pasokan air tidak sampai pada lahan pertanian para petani.

"Hal itu menjadi permasalahan serius karena selain lahan di So Malino, lahan yang ada di So lain pun terancam gagal panen,” terangnya.

Untuk antisipasi saat ini, petani menggunakan air yang bersumber dari sumur bor pribadi yang ditanam di pematang sawah.
“Karena tidak ada pasokan air. Kita gunakan sumur bor untuk antisipasi awal, ” tutup Hasan.

Senada disampaikan Syafrudin, petani asal Desa Rato. Kata dia, puluhan hektare padi terancam gagal panen karena kekurangan pasokan air.

“Dilihat dari kondisi panas matahari saat ini. Tanaman padi tidak tahan akibat terjadi kekeringan, ”  ujar Syafrudin.

Dia berharap, pemerintah dan dinas terkait mencari solusi terbaik dalam menghadapi kekeringan saat ini. “Kita minta pemerintah carikan solusinya. Kasihan petani, apalagi banyak yang sewa lahan, ” ungkapnya.

Kekeringan tersebut diakui PPL Desa Sanolo, H Ridwan SP. Kata dia, sekitar 30 hektare lahan petani di Desa Sanolo tidak memperoleh pasokan air.

“Tercatat sebanyak 30 hektar mengaalami kekeringan akibat tidak dapat pasokan air. Sejauh ini petani hanya menggunakan sumur bor ukuran kecil untuk mengantisipasi gagal panen,” pungkas H Ridwan. (MA1)

Foto: Inilah bangunan tower yang menjadi polemik warga Desa Kananga yang sudah berakhir.
Bima, Media Aspirasi - Polemik tower Base Transceiver Station (BTS) milik PT Telkomsel di Desa Kananga Kecamatan Bolo, usai. Warga sekitar lokasi tower memperoleh uang sebesar Rp 40 juta yang bersumber dari pemilik lahan dan pihak Telkomsel.

“Masalah sudah berakhir. Pemilik lahan sudah menyerahkan sebagian uang sewa kontrak lahan kepada warga, ” ujar Kapolsek Bolo, AKP Muhtar HI S Sos saat dikonfirmasi di ruangannya, Rabu (9/5).

Kata Kapolsek, terkait penyerahan uang tersebut telah dibuat surat pernyataan. Yakni oleh pemilik lahan dan warga sekitar yang  ditandatangani Kepala Desa, Ketua BPD, Kepala Dusun dan lima orang perwakilan warga.
“Ada surat pernyataan tentang pemilik lahan bersedia memberikan uang Rp 30 juta. Saat penyerahan ikut disaksikan oleh Babinkamtibmas desa setempat, ” terangnya.

Lanjut Kapolsek, terkait giat itu juga, pihak kepolisian hanya mengawasi saja. Sedangkan teknis selanjutnya kewenangan unsur Pemdes setempat.
“Kita hanya kawal saja. Selanjutnya terkait aliran uang yang bersumber dari pemilik lahan tersebut, bukan kewenangan polisi, ” bebernya.

Dirinya mengaku telah berkoordinasi dengan Kades setempat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait hal itu. Akan tetapi, Kades juga menyampaikan bahwa masalah uang tersebut adalah untuk warga sekitar tower, dan akan dibagikan oleh Kadus setempat ke warga lainnya.
“Saya sudah mencari tahu kebenarannya. Uang tersebut sumbernya dari pemilik lahan untuk dibagikan ke warga, ” ungkap Kapolsek.

Kades Kananga, Muhamad Nur SH membenarkan sudah dilakukannya serah terima uang sebesar Rp 30 juta di kantor desa setempat, Selasa (8/5). Uang tersebut bersumber dari pemilik lahan, yakni hasil sewa lahan.
“Mewakili warga lainnya. Kadus dan lima orang lainnya telah menerima uang yang diserahkan langsung oleh Suaib Agil selaku pemilik lahan, ” ujar Kades.

Selain uang yang bersumber dari pemilik lahan. Pihak Telkomsel juga ikut menyerahkan uang sejumlah Rp 10 juta. Yakni untuk kegiatan kemasyarakatan.
“Total uang yang diserahkan ke warga sebesar Rp 40 juta. Semuanya bersifat tali asih saja, ” terangnya.

Dirinya berharap kepada warga untuk bisa menggunakan uang tali asih tersebut dengan baik.
“Saya hanya bisa sampaikan pesan agar warga menggunakan uang dengan baik. Terkait masalah pembagian uang, saya tidak tahu, ” ungkapnya. (MA1)

Foto: Kondisi jalan ekonomi di Desa Monggo Kecamatan Madapangga yang ditutup
ima, Media Aspirasi- Jalan ekonomi desa yang menghubungkan So Sera Na’e dan permukiman warga Dusun Tolonggeru Desa Monggo Kecamatan Madapangga ditutup pemilik lahan. Akibatnya akses jalan yang dibuka sejak tahun 2016 menggunakan anggaran stimulan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima itu lumpuh total.

Warga Desa Monggo, Sunardin selaku keluarga pemilik lahan membenarkan telah menutup jalan tersebut dengan pagar. Hal itu dilakukan atas perintah pamannya, H Yasin yang saat ini berdomisili di Kalimantan.

"Saya diperintah untuk menutup jalan itu. Mengenai alasannya, nanti akan disampaikan paman saya (H Yasin, red)  saat pulang kampung," jelasnya.

Menurut dia, perintah penutupan jalan itu sudah berkali kali. Sebab diakui, saat pembuatan jalan, tidak ada koordinasi dari Pemdes setempat.
"Saya disuruh pagar berkali kali, karena tanah itu adalah warisan turun temurun orang tua. Dan saat sosialisasi pembuatan jalan tidak dipanggil oleh Pemdes, " akunya.

Sekretaris Desa (Sekdes) Monggo, Junaidin H Kasim menyayangkan penutupan jalan tersebut. Apalagi hal itu menghambat aktivitas warga setempat.

“Kita sesalkan ulah warga yang menutup jalan ekonomi. Dan akan menjadi atensi khusus untuk diselesaikan, ” aku Sekdes.

Dia mengaku tidak mengetahui indikasi hingga warga menutup jalan ekonomi itu. Padahal kata dia, sebelum jalan tersebut dibuka, Pemdes setempat sudah menginstruksikan kepada pamong desa untuk menyampaikan ke seluruh pemilik lahan terkait rencana pembukaan jalan ekonomi.
“Sebelum dibuka jalan ekonomi, sudah dilakukan sosialisasi. Dan saat itu tak satu pun yang keberatan, bahkan semua mendukung pembukaan jalan tersebut dengan alasan sebagai alternatif untuk mengangkut hasil pertanian, ” urainya.

Dijelaskannya, panjang jalan ekonomi sekitar satu kilometer. Selain bersumber dari Pemkab Bima yakni dana stimulan, pengembangan jalan menuju permukiman Dusun Tolonggeru juga menggunakan Dana Desa lebih kurang Rp 100 juta. (MA1)

Foto: Inilah suasana malam pembukaan STQ tingkat Kecamatan Madapangga
Bima, Media Aspirasi-Pembukaan STQ tingkat Kecamatan Madapangga digelar, Rabu (2/5) malam. Mirisnya, perhelatan kegiatan religi itu diwarnai banyak "kursi kosong" lantaran minimnya partisipasi warga.


Menanggapi hal itu, Camat Madapangga Muh Safi'i MAP menilai, minimnya partisipasi masyarakat lantaran kurangnya informasi yang diperoleh terkait kegiatan itu. Disamping itu, dampak dari lokasi kegiatan yang jauh dari pemukiman warga.

"Masyarakat bukan tidak antusias, hanya saja kurang informasi tentang kegiatan ini. Sehingga yang hadir hanya masyarakat sekitar lokasi kegiatan saja," ujarnya.


Menurut dia, pembukaan STQ itu sudah berjalan baik. Meskipun ada anggapan pelaksanaannya belum memuaskan.


"Kita anggap pembukaan STQ sudah berjalan baik. Soal penilaian memuaskan atau tidak, itu relatif," ujarnya.


Pihaknya mengaku tidak terlalu mempermasalahkan perbandingan penyelenggaraan tiap tahunnya. Karena yang terpenting kata dia, bagaimana kedepan diupayakan lebih baik lagi.


"Kalau dibandingkan tahun lalu, bisa jadi kurang memuaskan. Tapi kita fokus bagaimana agar kedepan lebih baik lagi," tutur Camat.


Dia berharap pembukaan STQ beberapa waktu lalu menjadi bahan evaluasi bagi Pemdes di wilayah setempat. Terutama dalam hal mensosialisasikan berbagai kegiatan kepada masyarakat.


"Pemdes adalah ujung tombak penyampaian informasi kepada masyarakat. Karena itu kedepan kita berharap sosialisasi tentang berbagai kegiatan bisa lebih maksimal dilakukan," harapnya.( MA3)

Foto : Salah seorang warga yang menerima surat panggilan Polisi, Haryanto
Bima, Media Aspirasi - Kisruh yang berujung penyegelan Tower Base Transceiver Station (BTS) setinggi 72 meter milik PT Telkomsel di Desa Kananga Kecamatan Bolo berbuntut ke ranah hukum. Kades dan empat orang warga setempat harus berurusan dengan polisi, lantaran diduga aksi penyegelan yang dilakukan beberapa waktu lalu menyebabkan kerusakan sistem elektronik pada tower tersebut.

Pemanggilan itu berdasarkan laporan oleh perwakilan PT Telkomsel Cabang Bima, Khamid Darmawan ke Polres Bima Kabupaten pada Kamis (19/4). Lima orang yang dipanggil polisi, yakni Kades Kananga Muhammad Nor SH, Ahmad H Karim, Herman, Subhan dan Haryanto.


Salah satu warga, Haryanto kepada media ini mengaku kaget dengan adanya surat pemanggilan tersebut. Apalagi kata dia, dalam relas itu tercantum ada kerusakan sistem elektronik yang mengakibatkan terjadinya gangguan.

"Dalam relas tersebut terjadinya gangguan akibat dilakukan aksi penyegelan tower. Apa ia karena aksi penyegelan diluar area tower bisa mengganggu sistem elektronik, kan lucu,” herannya.


Selain itu, dalam relas juga tercantum terjadinya gangguan disebabkan aksi warga pada Kamis (12/4). Padahal diakui, pada hari yang dimaksud tidak ada aksi.


“Pihak PT Telkomsel mengada-ngada terkait pengaduannya. Masa lantaran aksi penyegelan diluar area tower bisa menggangu sistem alektronik. Ironisnya, pada Kamis (12/4), warga tidak melakukan aksi, ” beber Yanto.

Lima orang warga tersebut memberikan keterangan pada hari yang berbeda. Haryanto, Ahmad H Karim dan Muhammad Nor SH mendapat relas hadir, Rabu (25/4), sedangkan Subhan dan Herman hadir pada Kamis (26/4).

“Sejauh ini yang sudah memberikan keterangan hanya empat orang. Sementara Ahmad H Karim berhalangan hadir karena masih ngawas ujian, ” urainya.


Haryanto juga mengungkapkan keterangan yang diminta pihak kepolisian saat penyidikan. Yakni menyangkut aksi yang dilakukan, Kamis (12/4).

“Saya ditanyakan terkait aksi warga pada Kamis (12/4). Saya jawab, saat itu tidak aksi, ” ungkapnya.


Kades Kananga, Muhammad Nor SH membenarkan pemanggilan oleh pihak Polres Bima, Rabu (25/4). Serta dimintai keterangan bersama empat warga terkait penyegelan tower tersebut.


“Benar saya mendapat relas pihak Polres Bima bersama empat orang warga. Dan substansinya, saya dipanggil sebagai Kades saja, ” pungkasnya.(MA1)

Media Aspirasi

{picture#https://scontent-sit4-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-1/28058894_154659935237247_4957512967608122509_n.png?oh=e15685f3106e957bc4d1d59cfa11f58c&oe=5B124344} Media online dari koran cetak Media ASPIRASI, yang merupakan media lokal di Bima, Nusa Tenggara Barat. Dengan Motto "Mengupas Data Penuh Fakta" {facebook#https://www.facebook.com/mediaaspirasi/} {twitter#https://twitter.com/MediaAspirasi} {google#https://plus.google.com/117226584361409169797}

Aden KT

{picture#https://scontent-sit4-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-1/p160x160/18814149_1215037451951634_2575455190579377800_n.jpg?oh=ec906f093d30d091ff2f320adccd3d0e&oe=5B0872D2} Admin Website sekaligus penulis di Media ASPIRASI .online {facebook#https://www.facebook.com/mustamin.mnur} {twitter#https://twitter.com/} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Diberdayakan oleh Blogger.